Pandangan Al-Qur’an tentang Ekonomi - SCIED UIKA

Jumat, 02 Oktober 2020

Pandangan Al-Qur’an tentang Ekonomi

 


Ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang produksi, distribusi, dan konsumsi, dapat pula diartikan “manajemen rumah tangga”. Al ba’i atau biasa disebut jual beli termasuk kedalam kegiatan produksi, kegiatan ini ada dalam kitab suci Al-Qur’an tepat pada surat Al-Jumu’ah ayat 9-10.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ   ٩

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ١٠ 

Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Makna dari ayat ini adalah Allah SWT menyeru kepada penduduk Madinah untuk bersegera melaksanakan sholat jum’at saat mereka sedang asik melakukan aktivitas perdagangan, dan meninggalkan aktivitas jual beli untuk sementara waktu dan melakukan sholat jumat berjamaah.

Distribusi, prinsipnya ada dalam surat Al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi


مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya: “apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kotakota, maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya”.ayat diatas membicarakan tentang prinsip distribusi harta rampasan perang yang disebut Al-Fay’i yang berarti diperoleh dari orang-orang kafir dengan mudah tanpa pengarahan pasukan sebagai lawan dari ghanimah untuk Allah SWT, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan agar harta itu menyebar bukan hanya untuk orang kaya saja.

Kualitas makanan ada dalam konsumsi terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 172 yang berbunyi


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. maksud dari ayat ini adalah Allah SWT menyeru kepada orang-orang yang beriman untuk memakan makanan yang baik-baik diantara rezeki yang diberikan-Nya. Diminta dan dituntut untuk bersyukur sebagai bukti ketaatan pada Allah SWT. Pada dasarnya, semua aktivitas manusia sudah diatur oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an, bukan hanya ilmu Ekonomi, sains pun ada. Tugas kita sebagai umat muslim hanyalah menuruti dan taat pada perintah-perintah- Nya juga menjauhi larangan-Nya. Allah SWT melarang kita umat manusia melakukan transaksi yang tidak dianjurkan oleh-Nya, kenapa ? karena hanya Dialah yang mengetahui apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk kita semua, bukan hanya umat muslim. Beberapa Negara yang bukan Negara muslim sudah menerapkan sistem Ekonomi Islam, karena mereka mengetahui dan sadar akan untungnya menerapkan sistem tersebut, jaya dalam segala hal, kerugian menipis, dan saling menguntungkan.

Penulis : Jilan Ashla Sayyidah   

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda