Melek Ekonomi Setelah Pandemi - SCIED UIKA

Jumat, 02 Oktober 2020

Melek Ekonomi Setelah Pandemi




    Tahun 2020 ini manusia diseluruh penjuru dunia digoncang dengan adanya pendemi Virus Corona yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan menimbulkan banyak kepanikan. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajurkan masyarakat Indonesia untuk mulai menerapkan Social Distancing atau pembatasan sosial, yang merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian viruscorona dengan menganjurkan orang sehat untuk tidak berada ditempai ramai dan melakukan kontak langsung dengan orang lain. Dan kini istilah Social Distancing diganti dengan Phsyical Distancing oleh pemerintah. Dengan adanya aturan ini membuat para pekerja dan buruh pabrik terancam kehilangan pekerjaannya, pekerja harian berkurang pendapatannya bahkan tidak ada perndapatan dan beberapa perusahaan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) padahal masih produktif untuk bekerja. Sedangkan kebutuhan hidup masih tetap berjalan. Adanya pandemi virus corona, membuat kita semakin sadar akan pentingnya perencanaan keuangan.Pandemi mengajarkan untuk senantiasa pandai dalam mengatur keuangan dan berjaga jaga menghadapi situasi tidak terduga serta mulai mengevaluasi kembali persiapan dana darurat kita masing-masing. Bagaimana kita seharusnya dalam mengatur dan mengelola keuangan? Hukum Syariah memiliki banyak aturan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seorang Muslim, termasuk dalam hal keuangan.

       Meminimalkan utang 

    Pada dasarnya, utang-piutang boleh dilakukan oleh seorang muslim, baik antara muslim dengan muslim maupun dengan bukan muslim. Al Quran dalam Surat Al- Baqarah memberikan pedoman tentang bagaimana utang-piutang harus dicatat dan disaksikan oleh orang lain agar tidak lupa dan pada akhirnya tidak merugikan pihak manapun. Namun demikian, Islam menganjurkan untuk tidak berutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak. Bagi mereka yang memiliki utang maka melunasinya harus menjadi prioritas utama. 

      Rumus 1-1-1 

    Ini merupakan rumus mengatur keuangan yang dibuat dan diajarkan oleh sahabat nabi, Salman Al-Farisi. Berdasarkan riwayat hidup Salman Al-Farizi, dengan modal uang 1 dirham, beliau menggunakannya untuk membuat anyaman yang dijual seharga 3 dirham. Jadi, dengan keuntungan 3 dirham, beliau membaginya menjadi: 1 dirham digunakan untuk keperluan keluarga, 1 dirham digunakan untuk bersedekah, dan 1 dirham digunakan kembali untuk memodali usahanya. Rasulullah menganjurkan kepada umat muslim untuk menjalankan rumus 1-1- 1 dalam kehidupan sehari-hari.

      Zakat, Infaq, dan Sedekah 

    Bersedekah sama dengan mensucikan harta. Islam menganjurkan untuk menyisihkan 2,5% dari penghasilan yang diterima untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang di sekitar. 

      Menyisihkan penghasilan untuk modal 

    Tidak hanya mencari nafkah, sangat disarankan untuk menyisihkan pendapatan yang diperoleh sebagai modal kembali bagi pedagang. Sedangkan bagi yang berprofesi bukan sebagai pedagang, dalam hal ini modal dapat diartikan sebagai simpanan masa depan untuk berbagai urusan (Membeli aset atau investasi). 

      Menabung dan memiliki dana darurat    
    
    “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (H.R Bukhari) Setiap orang tentunya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sebab itu, umat muslim seharusnya selalu berikhtiar dan berusaha untuk berjaga-jaga dalam menghadapi masa depan, yakni dengan memiliki dana darurat. Layaknya tabungan, dana darurat juga adalah salah satu hal yang harus dimiliki oleh setiap muslim. 

      Hidup sederhana dan jangan konsumtif 

     Rasulullah SAW merupakan sosok muslim dan manusia yang sangat sederhana. Meskipun beliau dan istrinya Khadijah hidup dalam gelimang harta, namun harta tersebut digunakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, membantu fakir miskin dan menyebarkan dakwah Islam. Mulai perilaku hidup hemat dan sederhana, atur pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, dan biasakan membeli hal-hal yang dibutuhkan dan tidak bermewah-mewah. Apabila memiliki materi berlebih, tidak salahnya mendistribusikan kekayaan tersebut kepada orang lain yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang terdekat. 

 Penulis : Nurhalisa Ulmi

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda