Sosialis Demokrasi Indonesia Yang Seharusnya - SCIED UIKA

Minggu, 27 September 2020

Sosialis Demokrasi Indonesia Yang Seharusnya

Pengertian Demokrasi Dan Demokratisasi - Sekolah007

    Sektor ekonomi merupakan sebuah sektor yang menjadi hal terpokok dalam kehidupan, bisa dilatakan demikian karena kebutuhan dasar manusia untuk setidaknya bertahan hidup merupakan bagian integral dalam sektor ekonomi, sejak zaman megalitikum ekonomi menjadi bahasan utama dimana manusia dalam peradaban tersebut konon memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu dan meramu, maka tidak mengherankan ekonomi merukan sebuah ilmu yang sangat luas cakupannya, dari mulai bagaimana mencari sebutir nasi sampai kebijakan internasional dalam bidang ekonomi, sangat miris jika ada yang beranggapan terutama kepada saya sendiri jika orang bertanya jurusan ekonomi syariah, orang akan tertuju langsung dalam perbankan, anggapan orang, ekonomi adalah perbankan. 


Masuk dalam pembahasan tentanng ekonomi terutama menyangkut hajat hidup jutaan orang maka akan ditemukan sebuah realitas yang menunjukkan perbedaan taraf hidup antar manusia, bahkan sampai antar benua, maka muncullah semenjak akhir perang dunia kedua sampai sekarang wacana tersebut terus digaungkan bagaimana sebuah pemerintahan dalam hal ekonomi bisa
menjalankan pembangunan ekonomi bukan hanya berfokus pada penambahan PDB semata namun lebih dari itu, multidimensional sampai menyangkut sikap dan kebiasaan masyarakat bagaimana pola pikir dan mentalitas berubah agar bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya. 


Pembahasan pembangunan ekonomi intinya adalah bagaimana masalah yang sejak dulu tidak dapat teratasi tentang kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran dapat teratasi, banyak teori bermunculan yang merefleksikan sistem ekonomi yang dianut pemerintah masing-masing, muncullah sebuah pengukuran yang dinamakan rasio gini, tentang kesenjangan dimana diukur apakah pertumbuhan dirasakan oleh segenap rakyat atau hanya segelintir manusia yang merasakannya, apakah pertumbuhan berkeadilan atau hanya pertumbuhan tanpa pembangunan. Jika melihat data rasio gini Indonesia mencapai angka 0,382 pada maret 2019, jika melihat sejarah negara yang relatif setara antara golongan kaya dan juga golongan paling rendah dimana 40% penduduk paling miskin bisa menyumbang lebih dari 17% dari pendapatan nasional yang dihasilkan maka kita akan menemukan negara seperti Jerman, Swedia, Jepang.
 
 
Tentang jerman bahwa negara ini menganut sistem sosial demokrasi, adanya kebebasan namun peran pemerintah disini besar dimana tercermin dalam unsur kebijakannya bahwa pajak progresif diterapkan kemudian perlindungan sosial yang digalakkan, semua orang harus mendapatkan asuransi kesehatan, pendidikan yang layak dan kesempatan untuk mendapatkan kesejahteraan dengan unsurnya kebebasan, keadilan dan solidaritas.  


Hal ini sejalan apa yang tertera dalam Pasal 33 UUD 1945, dimana disebitkan perekonomian disusun sebagai usaha berdasar atas asas kekeluargaan (ayat 1), cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara (ayat 2), Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (ayat 3), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional (ayat 4), serta dalam pasal 34 ayat 1 disebutkan bahwa, “Fakir miskin
dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. walaupun UUD 1945 buatan manusia namun apa yang dicita-citakan sejalan dengan prinsip Islam dimana mengharuskan dikeluarkannya sebagian harta untuk yang membutuhkan supaya harta tidak berputar diantara orang kaya saja (QS Al hasyr: 7) dan juga menekankan moralitas yang seakan terkikis dengan adanya interst yang eksploitatif. 


Ekonomi di negara sosialis demokrasi bisa mencerminkan apa yang diarahkan oleh Islam dimana terkenal prinsip “Mittelstand” atau kelas menengah di Jerman yang maknanya lebih laus dari itu, ini bisa menjadi contoh dan menambah pengetahuan dan semoga bisa diterapkan dan tentunya lebih ditingkatkan dengan tidak meninggalkan keyakinan beragama didalamnya: 

• Etos Kerja dan Spesialisasi 

Semboyan yang terkenal untuk para pekerja adalah “werviel arbeitet, soll auch viel feiern” yang berarti orang yang bekerja banyak juga harus berpesta banyak, tak ada atau sedikit bekerja, maka orang tak boleh berpesta, bahwa orang di jerman menekankan pemisahan pekerjaan dan kehidupan pribadi bersama keluarga dan teman-teman, ada sebuah pemisahan dalam hal tersebut maka konsekuensi tersebut akan menimbulkan profesionalitas dan produktivitas yang tinggi. Spesialisasi berarti bahwa setiap daerah berlombalomba untuk saling berkompetisi dengan memproduksi barang dan jasa yang unik hal ini sesuai dengan kebutuhan industri di Indonesia yang merencanakan diversifikasi produk sehingga tidak mengandalkan produk mentah saja apalagi yang harga nya berfluktuasi di pasar Internasional dan ini akan menekankan pertumbuhan dalam sektor manufaktur. 

• Familiaritas dan Konservatisme 

Familiaritas berakar dari kata family atau kekeluargaan, bahwa hubungan antar manusia hendaknya bisa mencontoh seperti kekeluargaan maka solidaritas dan tolong menolong antar sesama bisa terwujud. Dalam asas konservatif bisa dikatakan mempertahankan tradisi lama dan bisa dikatakan kolot namun menurut saya inilah yang harus dilakukan, karena kebudayaan sekaranga banyak orang yang berspekulasi di pasar finansial yang akibatnya bisa di lihat dalam krisis 2008 dan tentunya hal ini dilarang oleh Islam apalagi menyangut tentang riba yang mengakar kuat bahkan dianggap wajar dan seharusnya, pabrik-pabrik di jerman menerapkan kebijakan jujur dan konservatif yang artinya mereka tidak mau mendapatkan uang cepat, karena bermain saham atau menipu bank sehingga mendapatkan pinjaman besar dengan kredibilitas palsu, pekerjaan yang mempekerjakan banyak orang, memproduksi barang dengan mutu tinggi, tanpa utang, karena membeli hanya yang mampu dibeli, tidak bermain dibursa saham itulah yang dilakukan, ini sesuai seharusnya dengan Indonesia dengan surplus tenaga kerja maka diperlukan industri padat karya, dengan investasi yang diarahkan terhadap SDM, sehingga mutu manusia bisa lebih baik lagi, karena kehidupan ini apa yang lebih patut dilakukan jika tidak menjadikan kebanyakan manusia lebih baik lagi.
Referensi:
Reza A.A Wattimena. 2013. Dunia Dalam Gelembung. Jakarta: Evolitera 

Penulis : Fajar Royan Safarullah

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda