Kaya Raya Seperti Abdurahman Bin Auf - SCIED UIKA

Senin, 31 Agustus 2020

Kaya Raya Seperti Abdurahman Bin Auf

 Pot of Gold | ~Pot of Gold~ My coin bin was over flowing, so… | Flickr


Kaya Raya Seperti Abdurahman Bin Auf

    Menjadi kaya raya sudah menjadi kebutuhan untuk kaum muslim. Karena dengan menjadi kaya raya sangat bayak sekali manfaatnya. Banyak ibadah-ibadah seperti shodaqoh, zakat, infaq, waqaf, dan berhaji. Untuk menuntut ilmu pun sekarang perlu biaya yang tidak murah, maka dari itu menjadi kaya raya amat penting tetapi bukan menjadi tujuan pertama sehingga kita lupa dengan akhirat, tempatkan kekayaan dunia hanya pada tangan jangan pada hati.

    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan (HR. Muslim No. 2664, HR Ahmad No. 370, HR Ibnu Majah No. 79, shahih). Makna kuat disini memiliki banyak arti, kuat iman, kuat jasmani dan kuat finansial. Adapun kuat di sini dimaknai dari segi keyakinan, perkataan dan perbuatan yang semuanya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya(konsep itqon).

Lalu bagaimana cara abudrahman bin auf menjadi kaya raya tentunya dengan izin Allah

1. Berkah

Selama produknya halal, baik, tidak merusak iman dan jasmani, tidak bersentuhan dengan judi dan riba hajar terus. Ikhtiar maskimal sisanya pasrahkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Bukan hanya produknya yang halal, niatnya pun mulia, produk dan niatnya Allah ridhoi.

“BUSINESS IS NOT ABOUT PROFIT 
AND LOSS PROFIT BUT ABOUT 
HALAL AND HARAM”

2. Ketahui Marketnya 

    Banyak motivator-motivator bisnis, praktisi bisnis selalu menyarankan kepada audience sebelum jualan atau launching produk ketahui marketnya apa, market butuh solusi apa, dimana pasarnya. Ternyata sahabat Nabi yaitu Abudurahman bin Auf telah mempraktikan itu terlebih dahulu. Ingat saat abdurahman bin auf hijrah ke Madinah beliau tidak membawa apa-apa, Ketika beliau sampai dimadinah beliau ditawari banyak hal, sampai istri pun ditawari oleh kaum anshar, tapi beliau menolak dengan halus.

    Beliaupun ditawari harta, beliaupun menolak dengan halus dengan berkata “ Tunjukan saya dimana Pasar”. Sahabat nabi yang satu ini sangat jeli dalam berbisnis, mindsetnya tepat, karena dipasar kita dapat mengamati apa saja yang dibutuhkan oleh orang, sehingga kita dapat memikirkan solusi yang berupa produk untuk ditawarkan kepada orang-orang tersebut.

“SOLUTION IS A PRODUCT 
BUT A PRODUCT ISN’T
NECESSARILY SOLUTION”

    Jika ditarik kepada masa sekarang, bukan berarti teman-teman harus kepasar terus survei, ya tidak apa-apa juga kalau memang jualannya mau dipasar. Tapi jika studi kasusnya adalah jualan online, maka amati kebutuhan manusia saat ini di chanel chanel online like a social media, apa yang sedang dibutuhkan orang-orang dalam situasi seperti ini, peluang-peluang apa saja yang bagus saat ini. Jika teman-teman masih bingung, sudah saatnya teman-teman belajar Digital Marketing.

3. Jual secara Cash (Tunai, tidak hutangan)

    Bukan berarti hutang tidak boleh, hanya saja tidak baik. Umar bin Abdul Aziz berkata: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berhutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya hutang adalah kehinaan di siang hari kesengsaraan di malam hari, tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah- tengah manusia selama kalian hidup.

    Hutang juga dapat menyebabkan ketergantungan, banyak kasus orang-orang yang terlilit hutang. Contoh hutang dapat menyebabkan ketergantungan adalah kartu kredit, banyakan sekarang orang yang pakai kartu kredit. Dari segi bisnis barang yang dijual dengan hutangan itu memperlambat cash flow bisnis, arus kas nya jadi macet, tidak lancer.

    Abdurahman bin Auf tidak menjual barang daganngannya dengan berhutang tetapi cash/tunai. Berhutang boleh jika darurat, yang haram itu RIBA. Menurut informasi yang didapat, Abdurahman bin Auf tidak menerapkan hutang pada bisnisnya karena takut terjadi ketergantungan.

“PERBUDAKAN YANG TIDAK DISADARI OLEH MANUSIA ADALAH BERHUTANG”

4. Profitnya kecil (Tidak rakus)

    Abdurahman bin Auf ternyata tidak mematok untung yang besar pada 1 itemnya, beliau focus kepada volume penjualan. Untung tipis tapi jika yang beli banyak, banyak juga penghasilan yang didapat. Bukan berarti menjual harga yang mahal, high profit itu haram, boleh saja, ini hanya tentang prespektif dan value.

“TIDAK PERLU TINGGI UNTUK MENJADI KAYA, CUKUP DENGAN BANYAK KAMU BISA KAYA ”
    

5. Quality product is batter

    Produk yang dibeli oleh abudrahman bin auf itu produk yang bagus, kenapa? Karena jika membeli produk yang kurang bagus, akan sulit dijualnya. Bukan berarti menjual barang bekas itu tidak boleh, boleh menjual barang bekas asalkan jujur kepada pembeli bahwa yang dijual ini barang bekas, kualitasnya bukan yang terbaik, barang halal. Kalau ridho halal transaksinya.

    
“THE BEST PRODCUT WILL be EASIER to sell than bad product”

Itulah tips kaya raya seperti abdurahman bin auf, fokus pada keberkahan, niatkan untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, INGAT jangan tempatkan dunia pada hati TAPI tempatkan dunia pada tangan anda, agar tidak menjadi budak dunia. Wallahu a'lam bish-shawab

Penulis : Ahmad  Riswantio


Referensi: 


Umar bin Abdul Aziz Ma’alim Al Ishlah wa At Tajdid, 2/71

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda