BEKERJA MEMBAWA KEPADA KEMULIAAN - SCIED UIKA

Selasa, 19 Mei 2020

BEKERJA MEMBAWA KEPADA KEMULIAAN

Bekerja Halal dan bekerja keras untuk mendapat kemuliaan

Bekerja dengan Ikhlas


    Dengan bekerja ikhlas kita bisa mendapat izzah dari Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana kita tau bahwa Allah memerintahkan kita untuk bekerja, Allah berfirman pada Surat At-Taubah ayat 105:


وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا 

كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ


Terjemah Kemenag 2002
105.  Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Dalam dalil diatas terdapat makna bahwa Allah senang jika hambanya melakukan pekerjaan secara profesional, yang tentunya pekerjaan tersebut harus halal.
Namun yang harus diperhatikan juga, pekerjaan yang kita lakukan harus dapat mendatangkan izzah/kemuliaan di sisi Allah.

    Jika dari sudut pandang manusia kemuliaan itu seperti pujian dari masyarakat, harta yang banyak, jabatan tinggi, maka tidak heran begitu banyak orang-orang yang rela berebut posisi misalnya dalam pilkada berani mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk modal dalam mendapatkan posisi tersebut tanpa memikirkan apakah hal tersebut halal atau tidak.

    Namun jika dari sudut pandang agama Islam yang mulia itu bukan posisinya tetapi apakah pekerjaan itu dapat mendatangkan manfaat untuk kita dan juga dapat memberikan manfaat kepada orang-orang disekitar kita. Dalam hadits pun dijelaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ

Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” [HR Muslim]

    Contoh pekerjaan yang sangat mulia adalah 

    dokter, dalam situasi saat ini dokter-dokter rela berkerja tanpa menghiraukan keluarganya bahkan dirinya sendiri, untuk menangani pasien-pasien yang terkena covid-19, itu bentuk kemuliaan dalam bekerja, bentuk manfaat dalam pekerjaan yang dilakukan, maka itu dapat menjadi hal yang mulia disisi Allah Subhanahu wata’ala.

    Jadi pointnya, bagaimana dengan profesi kita, kita harus memahami bahwa bekerja itu adalah fardhu/kewajiban untuk mencari nafkah, Adapun profesi yang kita tekuni itu fardhu kifayah misalkan kita ahli dalam ilmu teknologi, komunikasi, informasi, itu adalah fardhu kifayah yang artinya tidak semua orang harus bekerja dibidang itu.  

    Yang terpenting adalah apa yang kita kerjakan dilandasi dengan motivasi, niat dan harapan untuk mendapatkan ridho, nilai dari Allah Subhanahu wata’ala, inilah yang dinamakan ketakwaan. Jadi landasan ketakwaan itu adalah ketika seseorang menjalani pekerjaannya itu agar mendapatkan kemuliaan dari sisi Allah Subhanahu wata’ala, sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ 
ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Terjemah Kemenag 2002
13.  Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al Hujarat :13)


Dan ternyata ketakwaan itu bukan semata-mata ibadah-ibadah yang bersifat ritual tetapi ternyata penggabungan antara akidah kemudian ibadah-ibadah ritual seperti sholat, berdoa, berzikir tapi juga ada yang bersifat sosial, seperti firman Allah


۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ 

وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ 

الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ 

الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Terjemah Kemenag 2002
177.  Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah :177)

    Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kebajikan itu juga berupa memberikan harta yang dicintai (uang, makanan), maka dari itu seorang muslim kenapa harus memiliki kekayaan agar mampu melaksanakan ibadah tersebut, karena disana ada kemuliaan dari Allah.

    Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

    Maknanya adalah kita bersikap memberi bukan menerima, oleh karena itu InsyaaAllah ini disebut amal ibadah di sisi Allah karena ia memberikan manfaat kepada orang lain dan ini juga sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).


    Jika dalam keadaan seperti ini yang terbaik adalah profesi dokter, karena mereka mengorbankan hidup mati mereka untuk orang lain, untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Tentu bukan hanya profesi dokter saja yang dapat mendapatkan kemuliaan dari Allah, profesi lainpun bisa dengan catatan dibarengi niat ikhlas karena Allah dan penuh dedikasi dan tanggung jawab, kerena niat yang ikhlaslah yang menentukan kualitas kita dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.


Kesimpulan agar Berkerja Keras Membawa Kepada Kemuliaan:

  •  Luruskanlah niat ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala dalam kegiatan bekerja kita kemudian tingkatkan kemampuan bekerja kita, jangan berhenti belajar untuk menjadi lebih professional.
  • Memperhatikan nilai-nilai ukhrawi, bahwasanya yang kita lakukan itu bukan untuk dunia saja tetapi juga untuk akhirat juga
  • Selalu zikirullah, untuk menghidupkan suasana kejiwaan kita, tasbih, tahmid, takbir, tahlil.
  • Selalu bersifat qana’ah, yang telah Allah rezekikan untuk kita tanpa serakah dan rakus
  • Selalu muhasabah untuk mengevaluasi kinerja kita dan untuk meningkatkan kinerja kita

wallahu a’lam bis-shawab

Penulis : ~Hamba Allah

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda