Peluang Fintech Syariah pada Era 4.0 - SCIED UIKA

Rabu, 13 Februari 2019

Peluang Fintech Syariah pada Era 4.0

Baru-baru ini telah muncul teknologi yang berkembang begitu pesat dibidang keuangan yaitu Fintech (Financial Technology) yang membuat warna baru pada dunia keuangan, apalagi sektor keuangan ini memegang peranan yang penting dalam memicu pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pada Era 4.0 ini menjadi sebuah pemicu munculnya sebuah sistem keuangan yang dibuat untuk memudahkan transaksi keuangan secara praktis, aman dan modern. Seperti yang kita ketahui Indonesia pun tak ingin kalah dalam persaingan teknologi ada banyak aplikasi Fintech yang di buat dengan berbagai fitur dan kelebihan dari masing-masing aplikasi. 

Peluang Fintech Syariah pada Era 4.0


Fintech berbasis Syariah?  

National Digital Research Centre (NDRC), Fintech adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial. Adapun menurut Bank Indonesia Fintech adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi dan modal untuk berbisnis. Dalam aplikasi fintech ini jenisnya juga sangat beragam yaitu, Crowdfunding dan Peer to Peer adalah akses untuk mendapatkan modal, Market Aggregator adalah portal yang mengumpulkan dan mengoleksi informasi data pilihan layanan keuangan kepada pengguna, manajemen risiko dan investasi adalah perencanaan keuangan dalam bentuk digital, dan terakhir yaitu Payment Gate-way dan Payment (E-money, E-wallet) adalah layanan terkait pembayaran dan transaksi online bisa dibilang merupakan pelopor fintech di Indonesia. Layanan dibidang online payment dan payment gateway ini mulai menjamur sejak munculnya berbagai situs e-commerce di tanah air. Macam-macam dari  fintech tersebut yaitu, Go-pay, Tcash, ovo, doku dan  masih banyak yang lainnya.

Manfaat Fintech :

Salah satunya untuk memudahkan manusia dalam bertransaksi. Nah, sangat disayangkan sekali bukan jika tidak ada Fintech yang berbasis Syariah? karena dalam fintech konvensional ini masih memakai sistem suku bunga yang terdapat unsur riba yang diharamkan. Riba yaitu pengambilan tambahan baik dalam transaksi atau pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dalam ajaran Islam.

 Pada zaman ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim, yang kini sudah banyak memahami apa yang benar dan apa yang tidak benar menurut ajaran agama Islam. Oleh karena itu, sudah mulai berkembang pula fintech yang berbasis syariah yaitu fintech yang menggunakan syariat Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Hadist. Ada juga Fatwa MUI tentang Uang Elektronik Syariah No. 116/DSN-MUI/IX/2017 dan Fatwa tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berbasis Syariah (Fatwa No. 117/DSN-MUI/IX/2018), merupakan dua fatwa yang berkaitan dengan aktivitas atau produk lembaga keuangan syariah dan lembaga bisnis syariah. Liputan6.com 26 Juli 2018 

Pada pertumbuhan fintech di 2018, menurut OJK khusus Indonesia berkembang dikirasan 30% pada bulan November. Meski begitu, perkembangannya tidak terlalu banyak tetapi ada dampak dari fintech ini juga ada yang bersifat positif yaitu mempermudah pertumbuhan pasar, efesiensi dalam bertransaksi, ataupun yang lainnya. Di samping itu ada juga hal negatifnya yaitu ancaman penyalahgunaan untuk kepentingan tertentu juga semakin besar. Contohnya kasus yang terjadi semenjak adanya fintech yaitu, suku bunga yang tidak jelas dan penyebaran data pribadi peminjam yang tentu saja membuat masyarakat menjadi resah. Oleh karena itu, kasus-kasus tersebut terjadi karena menggunakan aplikasi fintech yang konvesional bukan yang fintech syariah.

Fintech syariah ini sangat baik untuk masyarakat muslim, yang sudah pasti halal, menguntungkan kedua belah pihak, dan mensejahterakan umat Islam. Salah satu aplikasi sebagai kongregasi startup, institusi, komunitas dan pakar syariah yang bergerak dalam keuangan ekonomi syariah yaitu fintechsyariah.org. Di dalam aplikasi tersebut, sudah berbagai macam fintech syariah yaitu Asy-Syirkah Indonesia, zahir, danakoo syariah, ammana, ijabqabul.id dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, jenis-jenisnya juga sama dengan konvesional tetapi tentu saja tidak mengandung unsur riba, gharar, dan maysir.

Sifat dari fintech syariah juga sangat terbuka (transparan), saling menguntungkan dan menggunakan sistem-sistem yang sesuai dengan syariat islam, salah satunya akad mudharabah (bagi hasil). Maka dari itu, fintech syariah harus lebih dikembangkan lagi untuk masa depan masyarakat umat Islam, agar kita tidak kalah bersaing dari fintech-fintech konvensional agar mendorong kepedulian umat muslim untuk maju dalam aspek teknologi, keuangan syariah, dan untuk menjauhi larangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Oleh Fikria Hasni
 Staff Divisi Edukasi KSEI SCIED UIKA Bogor

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda